Menu

Jumat, 02 Maret 2012

KARENA AKU MENCINTAI MANUSIA SETENGAH DEWA PART 25


03 April….

Aku terbangun oleh sinar matahari yang masuk lewat jendela kamarku. Tiba – tiba hpku berbunyi, Aini.

“Ya….da pa neng?”, tanyaku.

“Kak Vie jadi pulang hari ini?”, tanyanya.

“Iyah, kenapa? Dah sampai Muara Kaman Kah?”, tanyaku.

“Udah, kangen Kak Vie, Aini. Kak, barusan Eki sms Aini, PSP nya dah ada”, ujarnya.

“Ya dah, nanti Kak Vie kabarin lagi ya”, jawabku.

Aku sengaja pengen beli PSP waktu itu untuk Bho supaya dia gak terlalu sering keluar rumahnya. Tapi sekarang ga perlu lagi kayaknya ya…

Aku langsung membereskan semua barang2ku, mengecek agar semuanya tak tertinggal. Ketika kupastikan semuanya beres, aku melihat sebuah tas yang harusnya semalam sudah raib, tapi ternyata belum. Ingin rasanya aku menitipkan semuanya ke GEIM, tempat Bho biasa main, Cuma, hati bilang ‘ga usah’.

Akhirnya aku memikirkan lagi semuanya, gimana caranya semua barang2 itu bisa masuk. Lama berpikir, akhirnya semuanya masuk. Hanya tertinggal Helm VOG.

Terkadang, Aku masih bisa membayangkan helm itu terpakai di kepala Bho. Kenapa dia harus beli helm dengan warna dan merk yang sama, VOG Super Sonic Hitam. Sampai sekarang, helm itu masih tersimpan di sudut lemari pakaianku. Kalau helm itu tak berarti buatku, mungkin sudah kuberikan kepada orang lain.

Rasanya, hari ini aku benar – benar harus merelakan semuanya. Merelakan Bho, Merelakan kondisi badanku dan merelakan kalau aku harus kenapa – kenapa dijalan. Hari ini aku pergi tanpa Bho yang mengantarkanku ke Balikpapan. Aku sendirian. Sama seperti ketika aku datang kesini, aku datang sendiri dan aku pun pulang sendiri.

Aku segera membereskan sisa – sisanya, pergi mandi.

Selesai mandi, aku segera siap – siap, jam masih menunjukkan pukul 8 hari itu. Aku membawa keluar semua barang bawaanku, hanya 1 buah tas pakaian dan 1 buah helm ditangan ( dah kayak pembalap aja bawa helm ya?)..
Semua teman – temanku masih terlelap, Cuma Aini yang menyapaku, itu juga karena dia ada di Muara Kaman, lagi bantuin Ibunya bikin krupuk kali ya???

Aku membawa semua bawaanku sendirian. Aku jalan motong lewat Masjid depan kost-an, trus naik angkot Hijau buat ke Terminal Bis. Angkot itu lewat GEIM dan ketika angkot itu melewatinya, Aku melihat motor Bho disana. Aku inisiatif mengirimkan sms perpisahan padanya…

“Sa, pagi – pagi dah nongkrong di GEIM”

Hanya itu kata – kata yang mampu aku tulis untuknya. Aku hanya bisa terdiam sepanjang jalan. Mengabadikan semuanya melalui cam digital ku. Kota yang sudah menyemangatiku untuk tetap bertahan selama ini harus kutinggalkan. Everybody doesn’t know me at all, doesn’t know my name, who am i?, Aku Cuma tau beberapa nama tapi tak tahu bagaimana bentuk rupanya. Hanya cerita.

Sesampainya di Terminal Bus, Aku langsung menaiki satu bis yang sudah siap berangkat ke Balikpapan. Kutaruh semua bawaanku di bagasi kecuali helm VOG ku. Aku memeluknya sepanjang jalan seakan – akan kalau helm itu hilang, maka hilanglah seluruh nyawaku.

Aku terpaku melihat pemandangan di sepanjang jalan. Aku banyak melewatkan pemandangan indah ini. Bi situ berhenti sejenak di dekat Jembatan Sungai Mahakam. Aku terpaku, sampai aku tersadar oleh teguran dari seseorang.

“Mau kemana Neng Cantik?”, tanyanya.

Seorang Bapak Tua duduk disebelahku.

“Ooo..ke Jakarta. Kenapa ya Pak?”, tanyaku.

“Sedang pandangi apa kah?”, tanyanya.

“Enggak. Hanya liat – liat diluar. Pemandangan bagus”, jawabku.

“Liburan kah atau tinggal disini memang keluarga?”, tanyanya.

“Liburan”, jawabku.

“Sendiri??”, tanyanya.

“Ga pak, sama teman tadinya”, jawabku alibi.

“Temannya mana?”, tanyanya.

“Saya pulang duluan”, jawabku.

“Kenapa? Marahan kah?”, tanyanya.

“Ga, dia masih ada urusan”, jawabku sambil masih memandangi Sungai Mahakam.

“Hmmm…Sungai Mahakam. Kamu tau tentang Sungai Mahakam?”, tanyanya.

“Kenapa Pak?”, tanyaku.

“Sungai Mahakam punya cerita pahit untuk saya”, jawabnya.

“Kenapa?”, tanyaku.

“Dulu ada pepatah bilang, ‘Sekali Kamu Minum Air Dari Sungai Mahakam, Kamu Pasti Akan Kembali Ke Samarinda’…”, ujarnya.

“hmmm….”, jawabku.

“Dulu saya punya pacar waktu muda, baik, saya sayang banget sama dia sampai saya bikin salah sama dia”, jelasnya.

“Salah??”, tanyaku.

“Iyah..Saya secara gak langsung masih mengharapkan wanita yang dulu saya suka, suka sama saya”, jelasnya.

“Maksudnya?”, tanyaku heran.

“Iyah, dulu sebelum saya pacaran sama cewek saya, saya pernah mengharapkan seorang wanita. Anggaplah namanya A…”, jelasnya.

Si Bapak bercerita sepanjang bis itu berhenti.

Beliau menceritakan tentang mantan pacarnya dulu yang di sia – siakan karena ternyata dia masih mengharapkan seorang wanita yang dulu dia suka, menyukainya. Mantan pacarnya datang jauh dari Surabaya dengan hasil gajinya yang ia kumpulkan. Sampai di Samarinda, ternyata si Bapak masih belum bisa melupakan wanita yang diidam-idamkannya sampai suatu saat, pacar si Bapak memutuskan pulang ke Surabaya dengan calon anak yang ada diperutnya. Si bapak mengetahui itu, Cuma beliau masih belum bisa menerimanya dan masih memimpikan wanita idaman itu. Akhirnya pacar si bapak pulang dengan sukarela.

Ketika si pacar sudah pergi, Beliau mulai berusaha mencari keberadaan si Wanita idaman. Ketemu katanya, tapi si wanita sama sekali tidak meresponnya.

“Padahal, dulu, waktu sakit, saya yang nemenin. Waktu dia minta apa, saya cariin.”

Begitu ceritanya. Beliau menyesal menelantarkan anak dan pacarnya yang kini entah dimana. Waktu sudah memakan semuanya. Si Bapak sampai ga ingat lagi sudah berapa lama tak berjumpa. Sampai dia dengar kabar dari kerabatnya tentang mantan pacarnya itu yang ternyata sudah tiada, meninggal ketika melahirkan buah cinta yang dulu pernah ditolak kehadirannya oleh si bapak.

Sekarang, anak dari mantan pacarnya itu pun menolak kehadiran si Bapak yang notabene ayah kandungnya dan si bapak tidak pernah menikah lagi sampai sekarang.

“Saya bukan tidak mau menikah lagi. Tapi sejak peristiwa itu, saya tau kalau dia meninggal, saya jadi merasa bener – bener berdosa neng. Kayaknya dengan tidak menikah pun belum bisa menebus semuanya. Apa yang dia berikan ke saya waktu itu tulus, kenapa saya begitu bodohnya sampai bisa menelantarkan dia demi mengejar wanita yang jelas – jelas ga menghargai saya sama sekali”, jelasnya.

“Trus apa yang bapak lakukan selama bapak ga mencari mantan bapak?”, tanyaku.

“Ya biasa, kayak ndak ada beban apa – apa, masih suka nongkrong – nongkrong sama temen – temen dulu”, jawabnya.

“Pas dah tau keadaan si ….itu, gimana pak?”, tanyaku.

“Hmmm..bapak ga bisa tidur, dari pas pacar saya pergi juga kayak ada yang ilang gitu. Hanya bapak pikir, Bapak bisa dapat gantinya, Cuma ternyata salah. Dia tak tergantikan Neng”, jawabnya.

“Hmmm….iyh. Sekarang Bapak tinggal dimana?”, tanyaku.

“Di Samarinda, Cuma ada urusan di Balikpapan”, jawabnya.

“Ga pengen nikah aja pak?”, tanyaku

“Saya bisa nikah lagi Cuma saya ga mampu kalau ingat semuanya. Biarlah, ini memang harga yang harus saya bayar karena mengecewakan wanita itu dulu, Namanya Siti”, jelasnya.

“Ya, semoga dia mendapat tempat yang layak ya Pak”, jawabku.

“Pasti Pasti…..saya selalu mendoakannya. Kenangan tentang dia masih hidup di hati saya walaupun anak saya dan dia tidak menerima kehadiran saya, tapi Ibunya telah memberikan pelajaran berharga buat saya. Tidak ada yang abadi di dunia ini Neng, jadi jangan sia – siakan yang ada dipelukanmu sekarang”, ujarnya.

“Iyh….”, jawabku.

“Sudah punya pacar kah?”, tanyanya.

“Sudah, tapi baru bubar”, jawabku.

“Kenapa? Ini gara – garanya kamu pulang?”, tanyanya.

“Bukan…”, jawabku alibi.

“Ya, semoga dia mendapatkan pencerahan ya nanti”, jawabnya.

Aku Cuma bisa diam, semua memori tentang Bho masih terekam jelas diotakku. Tak sadar, Bis itu pun bergerak melaju dan aku sedang memikirkan apa ini jalan yang terbaik untukku.

“Ya sudah, saya pindah, mungkin kamu ingin sendiri melihat – lihat pemandangan”, ujar Bapak itu.

“Makasih Pak”, jawabku sambil tersenyum.

“Senyummu mengingatkan saya sama mantan saya, terlihat manis tapi sebenarnya menyimpan kesedihan yang luar biasa. Saya mendekati kamu Karena kamu mirip dia, cantik, manis namun kehilangan senyuman dan sepertinya kamu sedang merasakan kesedihan yang entah bagaimana dahsyatnya”, jelasnya.

“Ah, bapak….ga kok. Makasih”, jawabku sambil tersenyum kembali dan memalingkan wajahku kembali ke arah jendela. Kupakai kacamata hitamku, menyembunyikan mataku yang mulai berair karena ucapan Bapak itu. Bi situ sudah melewati Jembatan Sungai Mahakam…

"Ya, dulu teman saya pernah bilang, "Jika kamu dihadapkan dengan 2 pilihan, carilah seseorang yang mencintaimu bukan orang yang kamu cintai. Karena orang yang tulus mencintaimu pasti mengerti kamu, bukan ingin dimengerti"..ingat baik - baik ya", ujarnya

"Ya...", jawabku.

“Senyummu mengingatkan saya sama mantan saya, manis tapi menyimpan kesedihan yang luar biasa”

Huuffttt….apa yang sudah terjadi, mengingatkan ku kembali kepada sosok wanita dimasa lalu Bho.

Namanya Zie, entah nama aslinya siapa. Bho kenal Zie di sebuah situs social bernama Tagged. Entah bagaimana ceritanya, Bho pun ketemuan sama Zie. Tapi Zie tampaknya hanya setengah hati pada Bho. Bho mengenalkan Zie pada sahabat wanitanya bernama Vina yang mungkin sampai detik ini, Vina pun masih berteman dengan Zie juga Bho.

Zie sudah dianggap Bho seperti adiknya, aku tak tau seperti apa arti “adik” buat Bho tapi buatku, itu ga masalah. Tapi Zie jelas mungkin jenis “adik” yang berbeda karena aku pernah menemukan BHo mengirimkan sms ke Zie..

“Adiiiiiikkkkkkkk……Kakak kangeeeeeeeeeeeeeennnnnnn”

Dan ketika aku membacanya, rasanya, campur aduk. Aku jadi merasa seperti orang lain buat Bho saat itu.

Tak sadar, airmataku mengalir. Aku mulai merasakan benar – benar hilang seluruh hatiku saat itu. Tak sadar, ada sms masuk ke HPku.

Vie, Eki niy, PSPnya jadi ga? Lo dah DP seharga 1 PSP, gimana?”, tanyanya

Aku membalasnya dengan menyuruhnya mengirimkannya ke GEIM atas nama Aji, tapi tunggu konfirmasiku. Aku langsung mengirimkan sms ke Bho.

“Sa, itu ada PSP di temenku, Eki. Buat kamu, kan waktu itu aku janji bakal beli PSP buat hadiah dari gaji pertamaku. Kusuruh kirim ke GEIM ya, atas nama Aji”

Terkirim….dan tak lama, balasannya pun kuterima…

“Ga usah, jangan kirim ke GEIM, simpen aja dulu sama dia. Nanti kita ambil sama – sama trus kita mainin bareng – bareng pas kamu balik ke Samarinda, ya?”

Aku tidak membalasnya…..aku Cuma bisa terdiam, menangis…….

‘Aku belum tentu kembali, Sa’……

Air mataku mengalir deras, membuyarkan pandangan mataku akan keindahan kota yang selama ini memberiku semangat yang akan segera kutinggalkan bersama semua ketulusan cintaku untuk seorang manusia berpangkat dewa bernama Bho….

FAREWELL LOVE…..this is a farewell ????

Tidak ada komentar:

Posting Komentar