Menu

Kamis, 01 Maret 2012

KARENA AKU MENCINTAI MANUSIA SETENGAH DEWA PART - 1


PART ONE - ME AND MYSELF

Aku adalah seorang gadis yang berjuang untuk hidupku sendiri di Ibukota. Walaupun, kalau dipikir", keluargaku masih mampu membiayai aku hidup. Tapi aku lebih memilih untuk membiayai hidupku sendiri, merasakan hasil peluhku sendiri.

Aku masih ingat semua kejadian yang membuatku memilih hidup sendiri.

“Hanna, denger yang Mas Yudi bilang….”
“Gak, Hanna pokoknya gak mau rumah ini dijual!!”
“HANNA !!!!”….Brruukkk…

Kejadian itu masih terngiang di telingaku. Kala itu, Aku harus mempertahankan apa yang Almh. Ibuku amanatkan untukku.

“Hanna, rumah ini jangan sampai dijual. Simpan semua surat – surat dan kotak perhiasan Ibu ini di bunker rahasiamu.Baca surat dari Ibu saat keadaan sudah stabil. Ibu percaya Hanna bisa.”

Tak lama setelah itu Ibu tiada. Banyak hal berkecamuk di hatiku. Sanggupkah aku?

Ketika keadaan mulai stabil, Aku teringat pesan Ibu dan bunker rahasiaku. Malam itu, aku membaca suratnya dan terkesima. Ibu meninggalkanku banyak amanat, diantaranya beliau ingin rumah tidak dijual dan menitipkan surat – surat rumah padaku. Ada sekotak kado terbungkus kertas kopi bertuliskan “Untuk Hanna” dan itu tertulis di dalam surat Ibu sebagai “Kado Pernikahan” untukku dan Ibu menginginkan agar aku membukanya pada saat aku akan menikah. Terlalu cepat dan terlalu panjang Ibuku berpikir tentang masa depanku. Seorang Hanna bisa menikah?? Apa mungkin ??

Seorang Hanna adalah gadis yang tertutup, pemurung, minder, perasa, rapuh tapi manja. Aku selalu merasa nyaman bercerita tentang segala hal pada Ibuku. Namun sejak Ibuku meninggal, aku lebih sering bercerita pada “Jurnalku” yang kuberi nama “Kintan”.

Kintan atau Jurnalku adalah sahabatku. Segala keluh kesah kuuraikan secara jujur pada Kintan. Tapi kalau aku sedang malas cerita, aku menyimpan semua itu sendirian. Sejak aku tahu rumah ingin dijual, aku berpikir betapa piciknya kakak – kakakku. Malam itu, aku putuskan menyimpan semua yang Ibu amanatkan padaku dan menaruhnya kembali dengan rapi di bunker rahasiaku. Kotak bertuliskan “Untuk Hanna” kutaruh diatas semua benda milik Ibuku. Aku mengakhiri malam itu dengan menyegel rapi bunker rahasiaku dan mengepak pakaianku karena keesokan harinya, aku ingin pergi…ya…pergi.!

Aku pergi keluar dari rumah keesokkan harinya dengan membawa apa yang aku punya, pakaian dan kintan. Berkat sahabatku, Ari, aku bisa pergi dengan mudah dari rumah. Di sepanjang perjalanan, Ari sempat menanyakan tentang apa yang terjadi. Sedang aku hanya berkomentar,

“NO COMMENT…”

Ari yang sudah lama mengenalku hanya mendengus kesal mendengar aku berkata itu dan itu berulang kali. Aku memang malas untuk menjawab tentang itu semua karena bagiku itu buang – buang waktu. Aku sedang berpikir akan hidup seperti apa diluar sana.Seorang Hanna yang….aahhh…Ari pun berpikir bahwa aku tidak bisa bertahan.

Sampai malam hari datang, hari pertamaku tanpa AC, tanpa TV, tanpa telepon, tanpa kasur empuk dan tanpa makan malam, aku berpikir untuk berubah. Aku bercerita tentang ini pada Kintan dan aku memutuskan untuk mempersiapkan “Alter Ego” ku.

Ya, Alter Ego, jati diri keduaku. Malam itu kuputuskan menamai alter egoku dengan Laras, Laras Anggun Anindya. Karakter Laras 180° berbeda denganku. Laras adalah wanita yang anggun, cantik, lembut, open minded, dewasa, easy going dan punya sifat – sifat manis lainnya.

Aku hidup dalam jati diri Laras bertahun – tahun sampai kadang aku merasa kalau aku adalah Laras, terlahir sebagai Laras bukan Hanna. Hanna sepertinya sudah hilang, terkubur disudut hatiku paling dalam dan aku seperti terbuai dengan itu semua. Sampai aku tak memikirkan apapun, bahkan KTP dengan status asal – asalan Hanna pun tak jadi masalah buatku. Aku seperti bukan Hanna, tapi sepenuhnya Laras.

Kadang aku berpikir untuk mengakhiri perjalanan Laras, tapi aku tak bisa. Laras seperti mendarah daging di dalam diriku. Kadang sifat Hanna-ku berontak tapi kuabaikan. Yang tak bisa kuabaikan hanya Kintan. Dia tetap sahabatku, baik aku Hanna ataupun Laras. Hanya pada Kintan, aku bisa jadi sosok Hanna dan Laras sekaligus. Mungkin kalau Kintan bisa bicara, dia pasti berteriak marah padaku. Hanya pada Kintan aku tuliskan syair – syair kegundahanku dan cerita – cerita hidupku. Entah cerita kegundahan Hanna yang ingin mengakhiri perjalanan Laras maupun kegundahan Laras tentang cerita – cerita cinta.

Sejak ada Laras, cinta datang silih berganti di hidupku sebagai Hanna. Tapi semua hanya selintas lalu, tidak ada yang benar – benar tulus. Hanna ingin rasakan “cinta” seperti yang dipunyai Ibu. Ibu dan ayahku adalah 2 manusia yang punya sifat yang sangat bertolak belakang. Ibu yang ceria, tak kenal kata lelah, supel, easy going, lembut namun tegas tampak seperti Laras untukku. Sedang Ayah, seorang yang punya dedikasi tinggi pada pekerjaan, tidak ngoyo, punya dunia sendiri, lembut dan tegas. Ibu dan Ayah bias berjalan beriringan sampai maut memisahkan. Cinta seperti itu yang ingin aku, sebagai Hanna miliki.

Aku ingin belajar menjadi Ibu dan laras tampak menguasai itu. Sekarang aku mencari sosok “ayah” tapi apa ada manusia yang sama seperti Ayahku???

Oke, I’ll find it but sebagai siapa?? Hanna?? Laras?? Sepertinya aku belum bisa menonjolkan sosok Hanna, diriku sendiri. Aku menjadikan Laras sebagai tamengku, tameng andalanku, untuk mencari cinta sejatiku. Aku menemukan media yang bagus untuk mencari ‘cinta’ ku itu. Internet!.

Ya, Internet!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar