Hari – hari berikutnya, tak jauh berbeda dari hari sebelumnya. Yang membedakan adalah aku mengenal banyak teman – teman baru. Kebetulan aku berada di Kamar No. 11, Kak Ajeng No. 9 dan Aini No. 5. Aku berkenalan dengan teman – teman yang lain. Ada Nisa di Kamar No. 6, Ada Cici di Kamar No. 7, No. 8 kosong, No. 10 Wulan, No. 12 Lisa, No. 13 Wati, No. 14 Lina dan No. 15 kosong.
Hari – hari berlalu dan aku masih dalam kegundahan yang sama. Aku tidak merasakan sendirian disini sekarang, ada teman – temanku tapi entah kenapa ada bagian didiriku yang hilang. Aku sadar, bagian yang hilang itu adalah Bho. Terkadang aku pengen banget sms dia, tapi takut ga dibales dan akhirnya aku merasa kecewa.
Sifat Bho yang lain adalah dia ga mau balas sms kalau itu ga penting buat dia. Dia juga gak akan angkat telpon yang menurutnya ga penting. Jadi percuma kalau aku sms dia tanya kabar, dia ga akan mungkin balas karena menurut dia, tanya kabar itu ga penting, kecuali aku kabarin kalo aku dah mau tenggelam di Sungai Mahakam atau Kost ku kebanjiran dan aku tinggal 0.5 meter lagi mau tenggelam, itu baru penting buat seorang Bho.
Buat dia, RF Online terlalu berharga untuk dilewatkan. Buatnya, melewatkan 1 chip war, sama dengan keterbelakangan. Dia ingin lebih dari yang lain soal RF Online. Dia bilang kalau dia pengen jadi Archon tapi itu ga mungkin. Saat itu, ga ada yang bisa mengalahkan CurseAngel ataupun Xmagic. Atau akhir – akhir ini, CurseAngel mengundurkan diri sementara dan digantiin sama Xmagic. Ingin rasanya pergi cari wargame trus coba maen RF lagi, tapi keinginan itu kutahan sampai akhirnya aku ga tahan.
Malam itu aku ke wargame deket kost, waktu menunjukkan pukul 19.00 WITA. Aku berjalan ke Wargame tempat Bho biasa beli Premium ( Voucher Lyto ) namanya Acc-Reload. Aku membayar paket 3 jam. Aku berjalan kaki dari kostku ke sana, agak lumayan tapi dah biasa. Aku langsung memilih pc dekat jendela.
Aku mengaktifkan YMku, rasanya kangen banget sama semua teman – temanku. YM ku aktif, aku langsung bisa melihat daftar teman – temanku,…
‘Mas Andi Online’, pekikku kegirangan.
Belum sempat aku menuliskan sesuatu untuk Mas Andi, dia lebih dulu mengirimkan msg padaku.
“Anak ilang, kemana lo? Ngapain aja lo disana?”, tanyanya.
“Mas Andiiiiii, pengen pulang!!!”, jawabku.
“Kenapa? Mang ada apa??”, tanyanya.
Aku, saat itu, menceritakan semua yang terjadi. Mas Andi shock, dia marah dengan semuanya. Dia mendadak jadi benci dirinya hari itu. Ga sampai beberapa menit, semua YM teman – teman kantorku aktif dan menanyakan kebenaran itu. Aku hanya bisa menatap layar monitorku, menekan tombol – tombol keyboardku dengan perasaan ga tentu. Menangis ga bersuara cukup membuatku tersiksa.
Sejak saat itu, Acc – Reload jadi sahabatku. Setiap saat aku datang kesana untuk sekedar say hai pada teman – temanku.
Hari berganti hari, tak terasa hampir setengah bulan aku ditempat kost baruku dan sadar, ternyata Bho tak pernah ada kabar. Aku semakin dekat dengan teman – teman kostku, jalan ke Mal Lembuswana, Minum Es Campur dekat Kampus WidyaGama, makan Nasi goreng Mawut enak deket kost, tempat – tempat yang mungkin Cuma ada dalam mimpiku kalau aku masih ada di kost ku yang lama. Aku dikenalkan pada teman – temannya Aini, anak2 Pencinta Alam disana. Kami sering ngobrol – ngobrol, tuker pikiran, tapi yang jelas, mrk ga tau aku hamil.
Sampai suatu malam, aku, Aini habis jalan – jalan liat panjat tebing di daerah Tepian. Malam itu kami pulang agak malam, jam 11. Dari depan, semuanya tampak biasa saja, tapi begitu kami buka pintu yang menuju anak tangga ke atas, terdengar suara Kak Ajeng ngamuk. Aini langsung naik keatas, sementara aku mengunci pintu dl. Naik perlahan dan takjub.
Kak Ajeng ngamuk sambil mengeluarkan kata – kata yang unbelievable. Aku memperhatikan dia yang duduk di kursi meja tamu sambil marah – marah ga jelas. Aini berusaha menenangkan. Aku gak takut, aku hanya berpikir kalau aku ga mau seperti Kak Ajeng. Sadar kalau aku hanya memperhatikannya, dia melemparkan asbak kearahku. Asbak itu pecah berkeping – keping lantai depan kakiku…
“Ngapain lo liat – liat hah??? A***NK lo….makan tuh asbak”, hardik Kak Ajeng.
“Kak, itu Vie bukan dia!”, jawab Aini.
“Lo lagi, ngapain siy lo ada disini?? Mau liat M***K gwe…gwe kasih liat. Ai baik sama kamu”, jawab Kak Ajeng.
“Apaan siy??”, jawab Aini.
Aku melihat sekeliling, Lina, Wati, Wulan dan yang lain hanya bisa melihatku dan Aini dengan wajah yang tak bisa kugambarkan, takut, kasihan, entah.
Aku maju selangkah….tiba – tiba tertahan oleh suara kencang Kak Ajeng.
“Mo ngapain siy lo? Ga puas lo dah bikin hidup gwe begini?? Ga puas lo liat gwe masih idup? Ga puas lo liat gwe gilaa?? Hah??”, tanya Kak Ajeng padaku.
Aini melihat padaku dan memberi aba – aba untuk diam. Tapi aku ga bisa…aku mengacuhkan semuanya.
“Ga mau ngapa2in gwe. Gwe Cuma mau liat keadaan lo. Gwe seneng lo masih idup tapi gwe ga suka liat lo begini, ngerti?”, jawabku.
Tak disangka – sangka, Kak Ajeng membalas ucapanku.
“Ngapain lo care sama gwe? Lo dah bawa cewek kerumah kita. Lo kenapa sakitin gwe?”, tanyanya.
“Gwe ga ada niat nyakitin lo…”. Jawabku.
Aku kehilangan kata – kata, tak terasa airmataku mengalir. Aku teringat Bho. Aku…..
“Kenapa Lo diem Hah? Gwe sayang ma lo, gwe rela kehilangan semuanya demi lo. Gwe rela, kenapa lo begitu?”, tanyanya.
Aku Cuma bisa diam. Tangisku semakin menjadi. Aku merasa, Kak Ajeng sedang merasakan yang aku rasakan. Seolah – olah dia tau isi hatiku.
“Lo mau tau pengorbanan gwe buat lo? Oke….lo liat..liat baik – baik”, ujar Kak Ajeng.
Aku menengadahkan kepalaku, berusaha melihat yang terjadi, Cuma itu terlalu cepat untukku.
Kak Ajeng melemparkan botol kaca ke lantai, mengambil pecahannya dan menggenggamnya erat – erat. Aku Cuma bisa diam, tangisku semakin menjadi. Aini Cuma bs diam, entah apa yang dilakukannya. Sementara yang lain, aku Cuma bisa mendengar Wati terisak – isak di depan kamarnya.
Kak Ajeng membuka genggamannya, Kaca itu dijatuhkannya ke lantai dan aku melihat darah disana. Aku langsung lemas, terduduk ditempatku berdiri.
“Kau liat kan Ai. Ai mampu kan. Gak sakit..tuh liat darahnya Ai, cantik kan Ai?”, tanya Kak Ajeng.
Aku menangis sejadi – jadinya. Aku ingat semuanya. Ingat teman – teman kantorku, ingat teman – teman guildku. Aku terpaku. Aku ga mampu bicara apapun. Yang aku pikirkan hanya sesuatu di perutku. Rapuh dan hanya bisa bergantung padaku. Aku penentu keputusan, akan dibawa kemana hidupku. Sungguh, Aku ga mau seperti Kak Ajeng.
“Duuhhh..sakit niy”, ujar Kak Ajeng membuyarkan lamunanku.
Kak Ajeng terbangun dan tiba – tiba dia terjatuh lemas. Aku segera bangun dan menghampirinya. Aini langsung lari ke kamarnya entah untuk apa. Lina langsung menghampiri Wati yang terduduk lemas di depan kamarnya. Aku….aku mengangkat kepala Kak Ajeng, menepuk2 wajahnya, mengharapkan dia sadar segera.
Aini tiba – tiba datang membawa kotak P3K. Aku tertegun. Tangisku belum reda ketika Aini memberikan sesuatu ke arah hidung Kak Ajeng dan tak lama setelah itu, Kak Ajeng sadar…
“Vie, kenapa nangis??”, tanyanya dengan suara parau.
Aku tak bisa menjawabnya, Aku Cuma bisa menangis. Melihatnya keheranan, membuat tangisku semakin menjadi.
“Vie mau minta maaf. Maaf. Vie ga bisa, Vie ga mau kayak gini. Vie ga mau kayak Kak Ajeng”, ujarku.
Aini heran, Kak Ajeng yang belum sadar betul langsung bangun dan duduk menghadapku.
“Ini kenapa berantakan?? Kakak ngamuk lagi yaa? Duuhh..sakit”, ujar Kak Ajeng.
“Ya, diem dulu Kak. Aini obatin dulu luka Kakak”, jawab Aini.
“Vie kenapa?”, tanya Kak Ajeng.
Aku diam seribu bahasa. Aku bingung. Akhirnya, diputuskan bahwa malam itu kami kumpul di kamarku. Aku menjelaskan dari awal kedatanganku ke Samarinda sampai hal itu terucapkan dari mulutku. Kak Ajeng dan Wati langsung memelukku, Aini menangis sambil memaki – maki aku, yang lainnya terduduk lesu.
Malam itu, semua tidur dikamarku, dempet – dempetan.
Pagi harinya, Kami terbangun karena ibu kost terheran – heran. Pintu kamarku terbuka, sementara kami tidur dah kayak Ikan Peda. Ibu membangunkanku dan yang lainnya, menanyakan ada apa kok bisa tidur dikamarku. Alibi mereka,
‘Nemenin Vie, eh ketiduran’…..
Semuanya kini lebih perhatian padaku. Aku dilarang untuk mengugurkannya. Aku pun tetap pada pendirianku. Aku tetap menjalani semuanya walaupun terasa sesuatu telah hilang dari diriku. Aku tetap belajar naik motor pakai motor Astrea Aini, malah pernah jatuh naik motor Pacarnya Wati di dekat jalan mau ke Lembuswana bawa New Revo. Nekat. Tapi Tuhan memang punya jalan lain. Sesuatu yang ada di perutku tetap pada tempatnya.
Semuanya berjalan biasa….Aku tetap aku…dia, biar dia menjadi sesuatu yang memang dia kehendaki. Aku belum bisa mengatakan apapun pada Bho. Tapi sesuatu terjadi dihari selanjutnya…..
Sesuatu yang sudah aku duga sebelumnya……tapi apa yang sudah kulalui tanpanya, membuatku sadar. Dewa sedang sibuk….aku manusia, Cuma bisa berharap….selebihnya……biar waktu yang jawab…
Andai aku mampu tanpa dia….apakah bisa???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar