Menu

Jumat, 02 Maret 2012

KARENA AKU MENCINTAI MANUSIA SETENGAH DEWA PART 21


Jatuh cinta, tak kenal usia
Tua muda, janda dan duda
Setiap manusia pasti merasakan
Jatuh cinta

Aku ingin kau jatuh cinta
Kau ‘kan tersenyum dan kau tersipu
Saat terselimuti cinta kau
‘Kan rasakan terbang melayang jauh

Jatuh cinta itu indah
Jangan kau takut jatuh cinta
Aku ingin kau jatuh cinta lagi
Dan semua kan terasa indah

Aku sedang jatuh cinta
Cinta mati sama kamu
Berikanlah cintamu yang pernah
Kau berikan seperti dulu

Jatuh cinta itu indah
Jangan kau takut jatuh cinta
Aku ingin kau jatuh cinta lagi,
Lupakan semua yang terjadi

Aku sedang jatuh cinta lagi dan
Ingin kembali padamu


‘Suara siapa itu ya?’, bisikku dalam hati.

Aku terbangun pagi itu oleh suara merdu seorang wanita yang aku ga tau siapa. Dalam hati mikir..

‘Itu manusia atau bukan ya?? Merdu banget suaranya..’, pikirku dalam hati.

Mendengar suaranya seperti ada perasaan galau dan sedih yang berkepanjangan. Seperti perasaan yang tersakiti namun berusaha tegar hadapi semuanya. Setengah mati aku penasaran pengen tau itu suara siapa tapi setengah mati juga ketakutanku, takut kalo itu bukan manusia.

‘Ini Kalimantan Hanna…bukan Jakarta’, bisik hati kecilku.

Pagi itu aku bertahan tidak keluar kamar untuk cari tau si pemilik suara merdu itu. Aku sudah tak bisa memejamkan mataku lagi. Yang ada dipikiranku hanya si ‘Pemilik Suara Merdu’ itu. Aku dapat merasakan apa yang dia rasakan karena aku sedang merasakannya juga.

Akhirnya, aku hanya bisa diam mendengarkan dia menyanyikan lagu itu. Tiba – tiba dia merubah nyanyiannya, lagu berirama melayu. Ugghh…suaranya enak banget, Siti Nurhaliza kalah deh. Beneran. Lagu itu menceritakan tentang kebesaran Tuhan, bagaimana kita manusia menjalani kehidupan ini terkadang melupakan kebesarannya.


Engkana' ri mabellae
Ri lippu wanua laeng
Deceng Muaro Usappa
Uwellai wanuakku
Tanah Ogi Wanuakku
Wanua tallessurekku
Indo' ambo' malebblikku
uwa'bokori ulao

Pura janci ri aleku
singkerru ri atikku
iapa urewe' mattana ogi
uruntukpi usappae

Indo' Ambo' Malebbikku
Aja' tapettu rennuang
Marillau ri Puangnge
Natepu winasakku

(dapet liriknya Cuma ga bs nyanyinya…ga bgus suara saya..)

Aku ga tau artinya tapi ini lagunya mengiris banget. Wanita itu menyanyikannya berulang – ulang. Mendengar iramanya, tanpa sadar airmataku menetes. Walau gak tau artinya, tapi kayaknya sedih banget.

Tanpa kusadar, aku tertidur oleh nyanyian itu. Seperti menina bobokan aku yang sudah lupa rasanya tidur nyenyak.

Aku terbangun kedua kalinya hari itu dengan nyanyian. Kulihat jam di HPku, menunjukkan pukul 10.00 WITA. Ugghh…dah siang ternyata dan belum ada tanda – tanda dari Bho sampai jam segini. Aku bangun dan terduduk di kasurku, aku merasakan perasaan yang tak menentu. Mual campur pusing. Hmmm….apa ini yang namanya “Morning Sickness”??

Aku berusaha mengontrol semuanya. Aku berusaha bangun, melihat penampakkan diriku di kaca, menyisir rambutku dengan tanganku sambil berpikir,

‘Apa yang mau kulakukan hari ini??’

Setelah kulihat rapi, aku bangun dan berusaha mencari dompetku. Aku mau cari makanan yang lumayan bisa isi perutku hari itu. Aku membuka pintu kamarku dan melihat sosok wanita cantik di seberang kamarku, ya….di kamar seberang kamarku, dia sedang menyanyi dengan suaranya yang pelan namun merdu.

Tingginya tidak lebih tinggi dari aku, badannya langsing, kulit putih, rambut panjang dan wajahnya agak seperti campuran Indonesia dan arab, kayaknya. Aku seperti patung didepan pintu kamarku sampai akhirnya si pemilik suara merdu itu melihatku dan menyapaku,

“Halo….”, sapanya.

“Halo juga…”, balasku setengah gagap. Cantik, kayak gambaran Laras.

“Anak baru ya???”, tanyanya.

“Iyah Kak”, jawabku.

“Sini……”, ajaknya untuk datang ke kamarnya.

Aku menutup pintu kamarku dan berjalan perlahan ke kamarnya.

“Kenalin, Namaku Ajeng. Kamu?”, ujarnya.

“Saya Hanna Kak. Tapi Ibu Kost panggil saya Vie, lebih gampang katanya”, jelasku.

“Ya dah, aku panggil kamu Vie aja. Hanna agak sedikit ribet juga”, jawabnya.

“Ya dah…gpp kok”, jawabku yang sambil memperhatikan kamar Ajeng.

Kamarnya penuh dengan boneka manusia, atau biasa kita sebut Barbie. Tipe – tipe wanita feminine tampaknya. Dia juga memakai baju yang sangat wanita buat saya. Andaikan saya punya kepercayaan diri yang besar untuk pakai baju seperti itu.

“Kamu kok pucet Vie? Dah makan kah?”, tanyanya.

“Belum. Gak tau mau makan apa. Perut lagi ga enak”, jawabku.

“Diare kah? Kakak punya obat diare kalau kamu mau”, jawabnya.

“Gak ga…bukan diare. Hmmm..begitulah”, ujarku.

“Begitulah kenapa?? Kamu sakit??”, tanyanya.

“Ceritanya panjang. Lain kali aja Vie cerita Kak. Kakak mau kemana?”, tanyaku.

“Kak Ajeng mau car mam, ikut yuk. Kita mam sama – sama”, ajaknya.

“Iyah. Vie tapi mau ke tempat Ibu kost dulu, gpp?”, jawabku.

“Gpp, Vie mau ke tempat istrinya Abah?”, tanyanya.

“Siapa istrinya Abah kak?”, tanyaku.

“Hmm..kamu belum tau ya?


Aku tertegun bingung. Wanita secantik, seanggun itu GILA??? No way….masa siy? Aku langsung melihat ke arah ibu sambil masih terbingung – bingung.

“Vie, jadi pergi car mam kah??”, teriak seseorang dibelakangku.

Aku menoleh. Kak Ajeng. Aku langsung membalas teriakan itu.

“Jadi….sebentar”, teriakku.

Aku langsung berpaling ke Istrinya Abah, Pamitan. Langsung aku menghampiri Kak Ajeng dengan perasaan campur aduk. Bingung, pusing, kasian dan ingin tahu campur jadi satu.

“Cari mam kemana kita Kak?”, tanyaku.

“Kita ke rumah makan padang depan sana aja yuk”, ajaknya.

“Aduh Kak, rumah makan padang?? Mahal kah?? Uang Vie ga cukup Kak”, jawabku.

“Ya dah, ikut Kakak aja”, jawabnya.

Aku mengikuti Kak Ajeng, berjalan meriringan dengannya. Sambil masih berpikir dalam hati, benar atau tidak yang dibicarakan si Ibu tadi. Bagiku, Kak Ajeng sosok yang sempurna. Cantik, langsing, pokoknya gambaran Laras banget. Tapi kenapa si Ibu bilang Kak Ajeng gila??

Begitu sampai di rumah Makan itu, Kak Ajeng langsung memesan Nasi pakai Ayam Gulai, Paru dan Ikan Gulai. Aku tertegun melihat porsi makan Kak Ajeng.

“Kak, banyak amat?”, tanyaku.

“Kakak laper Vie. Lapar banar Ai”, jawabnya dengan logat Melayu Bugis yang kental.

“Ooo…abis tuh Kak?”, tanyaku.

“Habis. Ayo kamu mam apa?”, Tanya Kak Ajeng.

“Duuhh..Vie minum aja Kak”, jawabku. Melihat porsi Kak Ajeng langsung kenyang perutku.

“Da, pesan nasi pakai ayam bakar 1 lah. Dada ya, buat adikku Vie ini”, ujarnya ke Uda penjual Nasi Padang itu.

“Kak, ga cukup uangku”, jawabku.

“Diam lah Ai. Kakak traktir hari ini, makan! Pucat sudah muka kamu masih tak mau makan?”, tanyanya.

Aku tak bisa menjawab pertanyaan Kak Ajeng. Aku langsung tertunduk malu sambil penasaran bener ga mukaku tuh pucet. Aku langsung mengikuti kemana Kak Ajeng pergi. Dia memilih meja yang agak pojok. Kami pun duduk. Aku duduk menghadap ke Kak Ajeng supaya bisa lebih enak bicaranya.

“Kamu dari mana Vie asalnya?”, Tanya Kak Ajeng.

“Jakarta”, jawabku.

“Ai Ai…jauhnya. Sama siapa disini? Kerja kah?”, tanyanya.

“Sendiri. Sedang cari kerja”, jawabku.

“Sendiri?? Beraninya kau niy. Punya pacar kah?”, tanyanya.

“Punya tapi tau deh, pusing”, jawabku.

“Kenapa?”,tanyanya sambil mengambil makanan yang baru saja diantarkan si pelayan rumah makan tersebut.

“Ga papa”, jawabku.

“Ga papa, cerita aja Vie. Ga papa kok. Siapa tau kakak bisa kasih solusi”, ujarnya.

“Ya, nanti Vie cerita. Nanti Kak…..ya?”, jawabku.

“Ya…”, jawab Kak Ajeng.

Hari itu aku cukup bahagia, mendapat rejeki nomplok, makan nasi padang di Kalimantan. Norak banget kayaknya tapi tetep seneng karena ya akhirnya bisa makan nasi sampe kenyang.

Aku dan Kak Ajeng pulang ke kost sambil bercanda – canda. Ketika kami sampai di depan kamar kami masing – masing, terdengar suara yang berasal dari kamar di koridor depan.


“Kak Ajeng, dari mana?”, tanyanya.

“Dari cari mam ini sama anak baru, kenalin Say”, jawab Kak Ajeng.

Sosok itu pun muncul dihadapanku, wanita lebih mungil dari Kak Ajeng, kulitnya agak lebih coklat dari aku. Tersenyum manis menghampiriku.

“Namaku Nur Aini. Panggil Aini aja atau Gadas juga ga papa”, jawabnya.

“Vie, namaku Vie. Kok Nur Aini jadi Gadas??”, tanyaku.

“Panjang ceritanya. Eh, lahir tahun berapa kah?”, tanyanya.

“Hmmm….198*. kenapa mangnya?”, tanyaku.

“Weeehh…berarti Kak Ajeng tetap paling tua ya. Keduanya Kak Vie. Disini semuanya rata – rata 88 – 87 kak”, ujarnya.

“Wedew….Masa?? Kak Ajeng memangnya lahir tahun berapa?”, tanyaku.

“198* Vie. Tua yaaa??”, jawab Kak Ajeng.

Akhirnya kami bertiga terlibat percakapan yang mulai akrab. Tadinya berdiri jadi duduk di ruang tamu sambil ngemil Snack dari kamar Kak Ajeng sama Aini. Pukul 10.00 malam, Kak Ajeng pamit untuk tidur. Dia pun segera berlalu dan kami, aku dan Aini meneruskan percakapan kami lagi. Selang berapa jam, aku teringat dengan yang dibicarakan Istrinya Abah tadi siang.

“Ai, boleh Tanya kah?”, tanyaku sambil sedikit berbisik

“Ya, kenapa Kak?”, jawab Aini.

“Kak Ajeng memang ‘agak agak’ ya Ai?”, tanyaku

“Hmm…dia bukan gila Kak, Cuma depresi”, jawab Aini.

“Depresi kenapa?”, tanyaku.

Aini pun menjelaskan panjang lebar tentang alas an kenapa Kak Ajeng depresi.

Dulu Kak Ajeng punya pacar, waktu SMU kelas 2. Mungkin karena salah pergaulan, Kak Ajeng hamil waktu umur 16 tahun dan akhirnya sang pacar pun menikahi Kak Ajeng. Mereka sama2 masih belia. Ternyata, si suami ( dah jadi suami Kak Ajeng ), terlibat sama Narkoba juga. Kak Ajeng ga bisa apa – apa karena saking cintanya. Suatu malam, pas Kak Ajeng sedang hamil tua, Si Suaminya pulang ke rumah dalam keadaan sadar tapi bawa perempuan. Kak Ajeng marah, Tanya siapa perempuan itu. Suaminya gak jawab. Sang suami pun bermesra – mesraan dengan perempuan itu dihadapan Kak Ajeng.

Kak Ajeng awalnya santai, tapi lama – lama stress juga. Setelah perempuan itu pulang. Dia bicara sama suaminya, maunya apa. Tapi ga digubris sama suaminya. Kak Ajeng terus desak suaminya untuk bilang maunya apa. Akhirnya si suaminya bilang ke Kak Ajeng, maunya apa. Dia mau Kak Ajeng lakuin sesuatu buat dia untuk tunjukkin kalo Kak Ajeng sayang sama dia. Suaminya minta Kak Ajeng buat iris urat nadinya.

Dilatar belakangi perasaan sayang lah, akhirnya Kak Ajeng menuruti apa yang suaminya mau tapi dengan satu kondisi, suaminya juga harus nurutin apa yang Kak Ajeng mau. Suaminya juga mau ngelakuin apa yang Kak Ajeng mau. Kak Ajeng minta suaminya Minum Obat Nyamuk. Deal, akhirnya mereka melakukan apa yang pasangannya masing – masing minta. Kak Ajeng motong urat nadi dan suaminya minum obat nyamuk.

Apa yang mereka lakukan masuk Koran di Samarinda. Dua – duanya berhasil diselamatkan. Tapi anak yang dikandung Kak Ajeng harus lahir premature.

Sejak saat itu, Kak Ajeng jadi depresi. Dia sering minum obat2 penenang sampai dia ga sanggup hidup tanpa obat – obat itu. Sampai lahir anak keduanya. Anaknya 2, Yang pertama perempuan, namanya Bella. Yang kedua laki – laki namanya Vio. Setelah lahir anaknya yang kedua, ternyata suaminya ga berubah – berubah, padahal Kak Ajeng sudah berkorban banyak sekali, sampai dia jadi begini.

Sekarang, anak – anaknya diasuh sama ibunya Kak Ajeng, sementara Bapaknya ga nerima Kak Ajeng lagi dirumahnya. Itu alasan kenapa Kak Ajeng kost. Dia gak diterima sama keluarganya lagi.

Dia memang suka ngamuk, tapi itu jarang terjadi lagi sejak anak – anak kost mulai sering mengajak Kak Ajeng komunikasi dan Kak Ajeng mulai membuka diri.

Malam itu, sambil tiduran, lampu mati, aku berpikir. Aku gak mau sampai depresi seperti Kak Ajeng. Cukup buatku melihat jalan cerita Kak Ajeng. Dia cantik, sempurna dimataku tapi dibalik itu, dia menyimpan suatu perasaan yang tak ingin aku miliki. Aku ingin bertahan, mempertahankan sesuatu yang sekarang hidup ditubuhku.

Aku mungkin punya hubungan yang sangat indah dengan seorang Dewa yang entah sedang apa sekarang. Dia tak memberiku kabar sama sekali hari ini. Mungkin sekarang dia sedang sibuk untuk repel – repel di Sette dan mencoba menjadi pahlawan untuk rakyat – rakyat Accretia di Comet. Dia memang Dewa, tapi aku manusia. Manusia yang masih punya hati, perasaan dan keinginan. Bukan berarti Dewa ga punya perasaan, tapi Dewa ga bisa jadi milikku seutuhnya.

Bho, Dewa di RF Online. Rasanya dia sudah jadi milik semua Acc disana, bukan milik VieaNKaChu yang biasa – biasa aja. Aku Manusia, bukan jalanku untuk jadi pendamping seorang Dewa seperti Bho.

Aku ga mau depresi karena itu…..aku cukup bahagia pernah merasakan cinta sesosok Dewa bernama Bho di hidupku dan sekarang aku ingin memperjuangkan apa yang sudah terjadi.

Aku, harus bisa berdiri tanpa Bho…..

Aku menangis malam itu mengingat semuanya….Apa aku bisa tanpa Bho?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar